oni.sahroni24@yahoo.com +62 812-8910-5575

Apakah Rahn Itu Harus yang Bisa Diperjualbelikan?

Dalam transaksi gadai, apakah barang yang digadaikan harus bisa diperjualbelikan?

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONIAnggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dalam transaksi gadai (rahn), apakah barang yang digadaikan itu harus bisa diperjualbelikan? Apakah semua barang itu bisa digadaikan? Bagaimana ketentuan fikihnya? Mohon penjelasan Ustaz. -- Mukhlis, Bekasi

 

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Sesungguhnya, ada perbedaan pendapat ihwal masalah tersebut.

Pertama, pendapat ahli fikih bahwa objek rahn tidak bisa diperjualbelikan itu dibolehkan. Sebagaimana dijelaskan oleh ahli fikih, otoritas fatwa, dan literatur berikut.

(1) Ibnu Rusyd menyebutkan beberapa pendapat para ulama yang intinya aset yang digadaikan tidak bisa dieksekusi saat debitur gagal bayar.

Di antara salah satu pendapat Imam Syafi’i: boleh menggadaikan buah yang belum matang.

Pendapat Imam Malik: boleh menggadaikan barang-barang yang belum definitif. Pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i: boleh menggadaikan barang walaupun statusnya pinjaman.

Sebagaimana dijelaskan dalam Bidayatul Mujtahid.

قال ابن رشد : أن تكون العين قابلة للبيع عند حلول الأجل؛ ويجوز عند مالك أن يرتهن ما لا يحل بيعه في وقت الإرتهان كالزرع والثمر لم يبد صلاحه ولا يباع عنده في أداء الدين إلا إذا بدا صلاحه  وإن حل أجل الدين؛ وعن الشافعي قولان في رهن الثمر الذي لم يبد صلاحه، ويباع عنده عند حلول الدين على شرط القطع؛ قال أبو حامد : والأصح جوازه؛ ويجوز عند مالك رهن ما لم يتعين كالدنانير والدراهم إذا طبع عليها، وليس من شرط الرهن أن يكون ملكا للراهن لا عند مالك ولا عند الشافعي، بل قد يجوز عندهما أن يكون مستعارا. (بداية المجتهد ونهاية المقتصد، ابن رشد ص ٥٩٤).

“Ibnu Rusyd berkata: 'Objek gadai itu harus sesuatu yang boleh diperjualbelikan pada saat jatuh tempo pembayaran utang. Tetapi menurut Imam Malik, sesuatu yang digadaikan itu boleh untuk tidak halal diperjualbelikan pada saat gadai, seperti tanaman dan buah-buahan yang belum matang buahnya, sehingga tidak dijual pada saat melunasi utangnya kecuali saat buah-buahan tersebut matang.

Sedangkan menurut asy-Syafi’i, ada dua pendapat dalam masalah tersebut. Menurutnya, tanaman dan buah-buahan itu dijual pada saat jatuh tempo dengan syarat buah yang belum matang dipotong untuk membayar kewajiban.'

Abu Hamid mengatakan: 'Menurut pendapat yang lebih shahih itu boleh termasuk menurut Imam Malik dibolehkan menggadaikan sesuatu yang belum definitif barang gadainya seperti dinar dan dirham apabila telah dicetak. Dan bukan bagian syarat rahn itu menjadi milik rahin, bukan juga termasuk syarat menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, bahkan menurut keduanya boleh walaupun statusnya pinjaman'.” (Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd, hal 594).

(2) Penulis kitab al-Hawi menyebutkan: sesuatu yang tidak boleh dijual, tetapi boleh digadaikan, seperti budak perempuan tanpa anaknya dan buah yang belum matang.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Hawi al-Kabir:

ويذكر في الحاوي الكبير : ضرب يجوز بيعه ورهنه كالأملاك المطلقة. وضرب لا يجوز بيعه ولا رهنه كالأوقاف وأمهات الأولاد. وضرب يجوز بيعه ولا يجوز رهنه على أحد القولين كالمدبر والمعتق نصفه. وضرب لا يجوز بيعه ويجوز رهنه، كالأمة دون ولدها، والثمرة مطلقا دون بدو صلاحها. (الحاوي الكبير في فقه مذهب الإمام الشافعي ١٢/٦).

"Disebutkan dalam kitab Al-Hawi al-Kabir, ada beberapa jenis aset rahn: (1) Sesuatu yang boleh diperjualbelikan dan pada saat yang sama boleh digadaikan seperti hak milik mutlak.

(2) Sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan dan pada saat yang sama tidak boleh digadaikan seperti wakaf. (3) Sesuatu yang boleh diperjualbelikan tetapi tidak boleh digadaikan menurut salah satu pendapat seperti budak yang dibebaskan setengahnya.

(4) Sesuatu yang tidak boleh dijual tetapi boleh digadaikan seperti budak perempuan tanpa anaknya dan buah yang belum matang.” (Al-Hawi al-Kabir fi Fiqh Mazhab al-Imam Asy-Syafi’i, 6/12).

Kedua, pendapat ahli fikih bahwa objek rahn tidak bisa diperjualbelikan itu tidak dibolehkan.

Sebagaimana dijelaskan oleh ahli fikih, otoritas fatwa, dan literatur berikut.

(1) Abu Yahya Zakaria Al-Anshari menjelaskan bahwa tujuan utama gadai adalah memastikan kewajiban debitur terhadap kreditur itu terpenuhi. Oleh karena itu, rahn harus bisa dijual atau dieksekusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sebagaimana dijelaskan dalam Fathu al-Wahab:

قال أبو يحيى زكريا الأنصاري : وشرط في المرهون كونه عينا يصح بيعها، فلا يصح رهن دين ولو ممن هو عليه لأنه غير مقدور على تسليمه،  ولا رهن منفعة كأن يرهن سكنى داره مدة لأن المنفعة تتلف، فلا يحصل بها إستيثاق ولا رهن عين لا يصح بيعها كوقف. (فتح الوهاب لأبي يحيى زكريا الأنصاري ص ٢٢٦).

Abu Yahya Zakaria Al-Anshari berkata, "Objek gadai disyaratkan harus berbentuk ‘ain yang boleh/sah diperjualbelikan. Oleh karena itu, tidak boleh menggadaikan piutang walaupun dari debitur karena itu tidak bisa diserahterimakan.

Begitu pula tidak boleh menggadaikan manfaat seperti menggadaikan manfaat rumah dalam waktu tersebut, karena manfaat tersebut bisa rusak (tidak bisa digunakan).

Oleh karena itu, tidak bisa memenuhi target istitsaq (dieksekusi saat pembayaran utang gagal). Begitu pula tidak bisa menggadaikan aset yang tidak sah untuk diperjualbelikan seperti wakaf.” (Fathu al-Wahab, Abu Yahya Zakaria al-Anshari, hal 226).

(2) Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa menggadaikan sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan itu tidak sah, karena target dari gadai adalah ada kepastian bayar hingga aset gadai tersebut bisa dieksekusi saat gagal bayar.

Sebagaimana dijelaskan dalam Syarh al-Kabir:

قال ابن قدامة : مسئلة (وما لا يجوز بيعه ولا يجوز رهنه إلا الثمرة قبل بدو صلاحها من غير شرط القطع في أحد الوجهين). لا يصح رهن ما لا يجوز بيعه كأم الولد والوقف والعين المرهونة؛ لأن مقصوده الرهن إستيفاء الدين من ثمنه، وما لا يجوز بيعه لا يمكن ذلك فيه ولو رهن عين المرهونة عند المرتهن لم يجز. (الشرح الكبير للشيخ الإمام ابن قدامة المقدسي ص ٤٢).

Ibnu Qudamah berkata: "Masalah (sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan itu tidak boleh digadaikan kecuali buah yang belum matang walaupun tanpa ada syarat untuk dipotong (pada saat eksekusi, pen.) menurut salah satu pendapat ashab). Tidak sah menggadaikan sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan seperti aset wakaf dan aset yang digadaikan, karena target dari gadai adalah ada kepastian bayar hingga aset gadai tersebut bisa dieksekusi saat gagal bayar.

Oleh karena itu, sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan tidak mungkin dieksekusi. Dan jika aset yang digadaikan tersebut digadaikan oleh si penerima gadai, maka itu tidak boleh.” (Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, hal 42).

(3) Ibnu Qudamah menegaskan bahwa tujuan rahn adalah istitsaq atau mengikat piutang agar bisa dijual untuk menutup utang jika tidak bisa ditunaikan oleh debitur.

Sebagaimana dijelaskan dalam Syarh al-Kabir:

قال ابن قدامة : مسئلة ( ويصح في كل عين يجوز بيعها). لأن مقصود الرهن الإستيثاق بالدين ليتوصل إلى إستيفائه من ثمن الرهن إن تعذر إستيفاؤه من ذمة الراهن، وهذا يتحقق في كل ما يجوز بيعه، ولأن كل ما كان محلا للبيع كان محلا لحكمة الرهن ومحل الشيء محل حكمته إلا أن يمنع من ثبوته مانع أو يفوت بشرط فيبقى الحكم به. (الشرح الكبير للشيخ الإمام ابن قدامة المقدسي ص ٢٨-٢٩).

Ibnu Qudaman mengatakan: "Masalah (sah menggadaikan setiap aset yang boleh diperjualbelikan). Karena tujuan rahn adalah istitsaq atau mengikat piutang agar bisa dijual untuk menutup utang jika tidak bisa ditunaikan oleh debitur.

Dan ini hanya bisa direalisasikan pada setiap aset yang bisa diperjualbelikan, dan karena setiap aset yang bisa diperjualbelikan itu bisa menjadi objek rahn. Dan objek sesuatu itu menjadi objek dari hikmahnya, kecuali ada larangan dari tsubut-nya atau ada syarat tertentu yang tidak terpenuhi, maka hukum menjadi melekat atau tetap.” (Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, hal 28-29).

(4) Standar Syariah Internasional AAOIFI menegaskan bahwa aset rahn itu harus bernilai, bisa dimiliki, dan diperjualbelikan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Standar Syariah AAOIFI:

ويذكر في المعيار الشرعي : 2/4 ‏يشترط في المرهون أن يكون مالا متقوما يجوز تملكه و بيعه، وأن يكون معينا بالإشارة أو التسمية أو الوصف وأن يكون مقدور التسليم. ويجوز رهن المشاع مع تحديد النسبة المرهونة منه، ومن ذلك رهن الأسهم. ويمكن إيقاع أكثر من رهن على شيء واحد بشرط علم المرتهن اللاحق بالرهن السابق، وتكون الرهونات في مرتبة واحدة إذا تم تسجيلها في وقت واحد فيستوفون من ثمن الرهن بالنسبة والتناسب (قسمة الغرماء). أما إذا سجلت الرهونات في أوقات مختلفة فتكون الأولوية بحسب أقدمية التسجيل. (المعيار الشرعي رقم (5) بشأن الضمانات).

Dalam Mi’yar Syar’i dijelaskan bahwa objek gadai harus memenuhi kriteria berikut: berupa harta bernilai yang bisa dimiliki dan diperjualbelikan, aset yang definitif, baik dengan isyarat atau nama atau dengan sifat, dan bisa diserahterimakan.

Menggadaikan barang yang musya’ itu diperbolehkan dengan menentukan persentase dari yang digadaikan dari aset tersebut. Di antaranya adalah menggadaikan saham.

Bisa juga dengan menggadaikan lebih dari satu gadai dari satu aset dengan syarat murtahin selanjutnya mengetahui tentang rahn sebelumnya. Barang gadai tersebut dalam satu level jika diregistrasi dalam satu waktu, sehingga mereka bisa memenuhi utangnya dari nilai aset tersebut dengan persentase dan secara profesional (Qismah al-Ghurama).

Tetapi apabila barang gadai tersebut diregistrasi dalam waktu yang berbeda-beda, maka prioritasnya sesuai dengan yang paling dahulu registrasinya.” (Standar AAOIFI No 5 tentang Dhamanat).

(5) Muhammad Bakar menjelaskan bahwa sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan itu juga tidak boleh digadaikan. Jadi tidak menggadaikan sesuatu yang tidak sah untuk diperjualbelikan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qawa’id al-Fiqhiyah:

قال محمد بكر إسماعيل : كل ما جاز بيعه جاز رهنه، ومن لايجوز بيعه لا يجوز رهنه. ولكن لا أن يرهن شيء لا يصح بيعه، كالأشياء النجسة، أو الأشياء التى لا يصح تملكه كأدوات اللهو، ولأشياء التى ليس في مقدور الراهن تسليمها، والأشياء التى ليست من الأمور المتمولة وهي التى لا ينتفع بها غالبا ولا تكون ذات قيمة عند الناس. (القواعد الفقهية بين الأصالة والتوجيه لمحمد بكر إسماعيل دار المنان ص ٢٣١).

Muhammad Bakar Ismail mengatakan, "Setiap yang boleh diperjualbelikan itu boleh digadaikan. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak boleh diperjualbelikan juga tidak boleh digadaikan. Tetapi tidak menggadaikan sesuatu yang tidak sah untuk diperjualbelikan seperti benda najis atau sesuatu yang tidak bisa dimiliki seperti alat yang melalaikan.” (Al-Qawa’id al-Fiqhiyah, Muhammad Bakar Ismail, hal 231).

(6) Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI menegaskan bahwa barang jaminan (marhun) harus berupa harta (mal) berharga, baik benda bergerak maupun tidak bergerak, yang boleh dan dapat diperjualbelikan.

Sebagaimana Fatwa DSN MUI: “Barang jaminan (marhun) harus berupa harta (mal) berharga, baik benda bergerak maupun tidak bergerak yang boleh dan dapat diperjualbelikan, termasuk aset keuangan berupa sukuk, efek syariah atau surat berharga syariah lainnya." [Fatwa DSN MUI No 92/DSN-MUI/IV/2014 tentang Pembiayaan yang Disertai Rahn (al-Tamwil al-Mautsuq bi al-Rahn)].

Wallahu a’lam.

Leave Your Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 Rumah Wasathia