• Sunrise At: 05:33
  • Sunset At: 18:02
oni.sahroni24@yahoo.com +62 812-8910-5575

Denda Keterlambatan di Bank Syariah di Luar Negeri

Bagaimana aturan denda keterlambatan pembayaran di bank syariah luar negeri?

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONIAnggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum wr. wb.

Terkait denda keterlambatan pembayaran di bank syariah, apakah denda itu diperbolehkan? Apakah sama praktiknya antara bank syariah di Indonesia dengan bank syariah di luar negeri? Mohon penjelasan Ustaz. --Teguh, Dumai

 

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Pertama-tama, perlu dijelaskan bahwa di Indonesia putusan syariah seputar denda keterlambatan itu merujuk kepada Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Debitur yang mampu tetapi dengan sengaja menunda-nunda pembayaran itu boleh dikenakan sanksi.

DSN MUI menegaskan dalam fatwanya Nomor 17/DSN-MUI/IX/2000 tentang Sanksi atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran, “Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan iktikad baik untuk membayar utangnya boleh dikenakan sanksi. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.”

Jika membaca fatwa atau opini syariah Dewan Pengawas Syariah (DPS) di lembaga keuangan syariah di luar negeri, maka putusannya sama. Lembaga keuangan syariah seperti bank syariah itu boleh mengenakan uang sejumlah nominal tertentu kepada nasabah yang mampu membayar tetapi dengan sengaja menunda-nunda pembayaran.

Dana tersebut tidak boleh menjadi pendapatan bank syariah, tetapi harus menjadi donasi sosial layaknya infak dan sedekah.

Di antara fatwa atau opini syariah tersebut adalah sebagai berikut.

(1) Standar Syariah Internasional AAOIFI

يجوز أن ينص في عقود المداينة، مثل المرابحة، على التزام المدين عند المماطلة بالتصدق بمبلغ أو نسبة بشرط أن يصرف ذلك في وجوه البر بالتنسيق مع هيئة الرقابة الشرعية للمؤسسة.

“Dibolehkan mencantumkan dalam akad mudayanat atau utang piutang, seperti murabahah, klausul tentang kewajiban debitur pada saat ia terlambat membayar kewajibannya (mumathalah) untuk bersedekah dengan nominal atau persentase tertentu dengan syarat disalurkan sebagai dana sosial dengan berkordinasi bersama DPS di lembaga keuangan syariah tersebut.” (Standar Syariah Internasional AAOIFI No 3 tentang Al-Madin al-Mumathil).

يجوز أن ينص في عقد المرابحة للأمر بالشراء على التزام العميل المشتري بدفع مبلغ أو نسبة من الدين تصرف في الخيرات في حالة تأخره عن سداد الأقساط في مواعيدها المقررة، على أن تصرف في وجوه الخير بمعرفة هيئة الرقابة الشرعية للمؤسسة ولا تنتفع بها المؤسسة.

“Dalam akad murabahah lil amir bisy syira’ boleh dicantumkan klausul tentang kewajiban nasabah pembeli untuk membayar nominal atau persentase dari utang yang akan disalurakan sebagai dana sosial pada saat ia terlambat untuk memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya. Dengan catatan dana tersebut disalurkan dalam aktivitas sosial dengan sepengetahuan Dewan Pengawas Syariah dan tidak boleh dimanfaatkan oleh lembaga keuangan syariah.” (Standar Syariah Internasional AAOIFI No 8 tentang Murabahah Lil Amir bisy-Syira).

(2) Fatwa atau opini syariah Dewan Pengawas Syariah Dalla Baraka,

يجوز الاشتراط على المشتري المقتدر والمماطل بالسداد بأن يدفع غرامة تأخير على ألا يتمولها البنك بل يقوم فقط بصرفها في وجوه الخير.

“Boleh mensyaratkan kepada pembeli yang mampu tetapi dengan sengaja menunda-nunda pembayaran agar ia membayar sejumlah uang tertentu sebagai denda keterlambatannya dengan syarat itu tidak menjadi pendapatan bank tetapi disalurkan sebagai dana sosial.” (Ad-Dalil Syar’i lil Murabahah, Izzudin Muhammad Khujah; Muraja’ah Dr Abdu Sattar Abu Ghuddah, hal 245).

(3) Fatwa atau opini syariah Dewan Pengawas Syariah Baitu at-Tamwil al-Kuwaiti,

بيت التمويل الكويتي، ج ٣ فتوى ٢٨٤ :السؤال : حول إمكانية فرض عقوبات مالية على العميل المقتدر والمماطل بالسداد. الجواب : إذا وقعت المماطلة من المدين فان المستحق هو الدين فقط دون أي زيادة لأنه يعامل معاملة الغاصب للمال المثلى وجزاؤه رد المثل دون زيادة مع الإثم على عمله. وفي جميع الأحوال فان البنك لا يتمول هذه الغرامات بل يصرفها في وجوه الخير العامة.

“Fatwa Dewan Pengawas Syariah Baitu at-Tamwil al-Kuwaiti, Juz 3, Fatwa No 284. Pertanyaan: Seputar kemungkinan diberlakukannya sanksi materi terhadap nasabah mampu tetapi menunda-nunda pembayaran.

Jawaban: Jika menunda-nunda pembayaran tersebut dilakukan oleh debitur, maka yang harus diambil adalah pokok pinjaman saja tanpa tambahan karena ia diperlakukan seperti orang yang merampas harta sejenis, dan balasannya adalah ia harus mengembalikan harta sejenis tanpa penambahan dan ia berdosa atas perilakunya tersebut. Dan atas kondisi tersebut bank tidak boleh mengambil denda keterlambatan sebagai pendapatan, tetapi harus disalurkan sebagai dana sosial untuk kepentingan publik.”

(4) Putusan Bank Negara Malaysia,

يجوز للطرفين المتعاقدين في أي عقد بيع وشراء في المرابحة إدراج بند ينص على رسوم التأخير عن السداد وفق ما تحدده السلطة المختصة...الغرامة التي لا تعدّ دخلاً، وإنما يجب صرفها لصالح جهات خيرية.

“Para pihak dalam akad jual beli murabahah itu boleh mencantumkan klausul yang menegaskan kewajiban debitur untuk membayar denda keterlambatan sesuai dengan kebijakan otoritas terkait...Denda keterlambatan tidak boleh dijadikan pendapatan, tetapi harus disalurkan untuk kepentingan sosial.” (Al-Ma’ayir Asy-Syar’iyah wa al-Mutthalabat at-Tasyghiliyah, hal 20-21).

Wallahu a’lam.

Leave Your Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 Rumah Wasathia