• Sunrise At: 05:50
  • Sunset At: 18:16
oni.sahroni24@yahoo.com +62 812-8910-5575

Liburan Keluarga, Bagaimana Tuntunannya?

Bagaimana tuntunan syariah aktivitas liburan keluarga?

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONIAnggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamu’alaikum wr. wb.

Liburan akhir tahun (liburan sekolah dan kerja) biasanya dimanfaatkan untuk refreshing, rehat, dan jalan-jalan ke tempat wisata. Bagaimana tuntunan syariah terkait aktivitas liburan? Mohon penjelasan Ustaz! --Zainal, Depok

 

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Mengisi liburan sekolah dan kantor itu menjadi momentum yang tepat. Hal ini karena pada Desember dan Januari ini sebagian siswa dan santri sedang berlibur beberapa pekan.

Mereka diizinkan oleh sekolah dan pesantren untuk pulang ke rumah masing-masing bersama keluarganya.

Di sisi lain, para orang tua yang menjalani aktivitas keseharian sebagai seorang profesional, di akhir tahun diberikan waktu libur panjang sehingga bahasan ini tidak hanya sesuai bagi siswa atau santri, tetapi juga bagi para orang tuanya.

Agar bahasan ini runut dan mudah dipahami, maka dijelaskan dalam poin-poin berikut.

Pertama, target kegiatan liburan. Agar kegiatan liburan keluarga itu terarah, maka berikut beberapa target liburan.

(1) Rehat dan refreshing. Anak-anak dan keluarga bisa rehat dari aktivitas belajar dan kerja yang mengambil energi dan perhatian (melelahkan). Sebagaimana hadis Rasulullah SAW,

 

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً. ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

"Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh jika kamu senantiasa menetapi apa yang kamu lakukan ketika kamu berada di sisiku dan ketika kamu berzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tanganmu dalam setiap langkah dan perjalananmu. 'Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.’ Beliau mengulangi kata-kata itu tiga kali." (HR Muslim).

(2) Guyub sekeluarga. Membangun kedekatan orang tua dan anak (kedekatan di antara sesama anggota keluarga).

(3) Memastikan ibadah, akhlak, dan pemahaman anak dan anggota keluarga sesuai harapan. Memastikan pendidikan anak di sekolah atau pesantren tertunaikan dalam aktivitas keseharian.

Misalnya dengan melihat langsung bagaimana anak-anak bisa mengatur waktu tidur dan bangun untuk shalat Subuh. Apakah mereka menunaikannya diingatkan atau dipaksa atau dengan sendirinya.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW,

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

"Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat itu jika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka." (HR Abu Dawud).

(4) Beberapa pekerjaan rumah dan kebutuhan lain yang harus dipenuhi oleh anak-anak, karena liburan menjadi kesempatan luang. Seperti mengurus KTP dan buku tabungan.

Berbelanja kebutuhan harian anak-anak dan keluarga yang belum sempat disediakan saat waktu sekolah dan pekerjaan aktif, seperti pakaian renang, pakaian olah raga, dan lainnya.

Kedua, aktivitas liburan. Sebenarnya aktivitas liburan itu sangat beragam, yang terpenting positif, aman (terhindar dari risiko kecelakaan), dan menyenangkan.

Di antara aktivitas tersebut adalah sebagai berikut.

(1) Rihlah atau jalan-jalan keluarga seperti kegiatan camping, offroad, dan rafting. Sebagaimana tuntunan yang bersifat umum, di antaranya penjelasan Ibnu Qayyim,

قال ابن القيم رحمه الله : إن أفضل العبادة : العمل على مرضاة الرب في كل وقت، بما هو مقتضى ذلك الوقت، ووظيفته. (مدارج السالكين، 1/ 88).

"Ibadah yang utama adalah mengelola aktivitas yang sesuai dengan ridha Allah di setiap waktu sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan zaman dan tugasnya.” (Madarij as-Salikin, 1/88).

(2) Pulkam (pulang kampung), seperti pulkam ke tempat kakek dan neneknya, silaturahim bersama keluarga besar. Termasuk jalan-jalan ke luar kota bersama keluarga besar termasuk membersamai aktivitas kakek dan nenek di sawah, kebun, dan ladang mereka.

Sebagaimana firman Allah SWT,

"...dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak...” (QS al-Isra: 23).

Sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seorang kakek dan nenek bisa dikunjungi dan dibersamai oleh cucu-cucunya selama liburan sekolah mereka.

(3) Kegiatan fisik seperti joging bareng bersama keluarga dan anak-anak, medical check-up, dan lain-lain.

Ibnu Qayyim menjelaskan,

قال الشيخ ابن القيم : لما كانت الصحة من أجل نعم الله على عبده وأجزل عطاياه وأوفر منحه بل العافية المطلقة أجل النعم على الإطلاق، فحقيق لمن رُزِقَ حظا من التوفيق مراعاتها وحفظها وحمايتها عما يُضادُّها (زاد المعاد 4/196).

"Pada saat fit dan sehat itu menjadi karunia terbesar Allah SWT, maka menjadi kewajiban setiap insan sebagai penerima karunia tersebut untuk merawat dan melindungiya dari setiap yang merusaknya." (Zadul Ma’ad 4/196).

(4) Kegiatan pendidikan selama liburan seperti pesantren kilat, menghafal Alquran atau lainnya. Ini menjadi pilihan sebagian anak yang atas dorongannya sendiri memilih kegiatan seperti ini.

Ketiga, beberapa hal yang harus diwaspadai. Karena anak-anak zaman kini berbeda dengan orang tuanya, memiliki kekhasan yang sudah menjadi maklum bagi seluruh orang tua, maka selain aktivitas harus positif, juga sesuai dengan usia mereka.

Beberapa yang harus diarahkan, diantisipasi, dan dibimbing adalah main game yang berlebihan, tontonan (termasuk nonton di bioskop), kegiatan malam tahun baru, pergaulan, dan aktivitas yang berisiko akan bahaya fisik.

Suatu fitur, aplikasi, dan kegiatan walaupun halal, tetapi jika berlebihan itu merugikan dan dilarang dalam Islam.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ (رواه الترمذى).

"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR Tirmidzi).

Misalnya, anak-anak yang sudah usia remaja, di usia pendidikan SLTA, tidak mudah bagi sebagian untuk mengikutsertakan anak-anak dengan usia tersebut melakukan kegiatan liburan, seperti bersilaturahim dengan keluarga besar di kampung, camping, atau lainnya.

Oleh karena itu, sebagian anak-anak memilih mengisi liburan bersama teman-temannya. Bagi para orang tua, ini menjadi tantangan tersendiri agar keinginan mereka mengisi liburan bersama temannya terpenuhi tetapi tetap kondusif.

Sebagai catatan, risiko yang harus diwaspadai tak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada orang tua.

Mungkin terjadi bagi sebagian, liburan ini tidak menjadi momentum emas dan tidak menjadi liburan yang menyenangkan bagi anak-anak karena para orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya atau kendala keuangan dan lainnya. Intinya, karena liburan ini tidak direncanakan dan tidak disiapkan oleh para orang tua.

Wallahu a’lam.

Leave Your Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 Rumah Wasathia